• RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
Posted by Unknown - - 0 komentar

"Pagar sekolah kita ada di hati" itu adalah kalimat yang biasa diucapkan oleh guru-guru SMAN 1 Bangkalan kepada siswa baru.  Siapapun yang tidak pernah tahu tentang kondisi sekolah kami, SMAN 1 Bangkalan mungkin akan bertanya-tanya apa maksud dari ucapan tersebut.  Maksud dari ucapan tersebut adalah bahwa SMAN 1 Bangkalan tidak memiliki pagar, namun persentase bolos di sekolah kami 0%.  Jadi pantas saja kalau guru kami berkata seperti itu.

Ditengah-tengah kekurangan sekolah kami (kekurangan pagar), kami memiliki segudang kelebihan.  Kelebihan yang kami pikir tidak dimiliki sekolah lain di dunia. Salah satu kelebihan sekolah kami sudah disebutkan di paragraf pertama.  Kelebihan berikutnya yang menurut kami mewakili semua kelebihan adalah manajemen OSIS di SMAN 1 Bangkalan.  OSIS di sekolah kami adalah OSIS yang mandiri.  Kami memanajemen sendiri uang yang kami terima dari sekolah untuk melaksanakan semua acara sekolah.  Walaupun OSIS SMAN 1 Bangkalan memanajemen uang sendiri, tidak akan terjadi konspirasi untuk melakukan korupsi.  Karena setiap sebuah proram kerja selesai dilaksanakan, seksi OSIS yang bertanggung jawab terhadap acara tersebut akan dimintai pertanggung jawaban.  Pertanggung jawaban tersebut berupa laporan keungan dan jalannya acara yang disaksikan langsung oleh kepala sekolah dan guru pembina.  Jadi OSIS SMAN 1 Bangkalan sudah dididik untuk tidak korupsi.

Salah satu program kerja terbesar OSIS SMAN 1 Bangkalan adalah MSC (Millenium Student Soccer Championship) atau kompetisi sepakbola antar kelas.  Karena rata-rata pemain amatir, durasi permainan hanya 30X30 menit.  Lewat MSC ini SMAN 1 Bangkalan banyak melahirkan pemain berkelas.  Pada tahun 2009 11 anak dari SMAN 1 Bangkalan terpilih ke dalam skuad Timnas Indonesia U-16 untuk piala pelajar di Uzbekistan.  Dan 3 orang diantaranya terpilih untuk masuk skuad Tim SAD Indonesia yang sekarang sedang berlatih di Uruguay.  Selain itu, SMAN 1 Bangkalan juga pernah merasakan menjadi runner up Liga Pelajar Indonesia (LPI) tingkat nasional.  Hanya saja kami kalah adu penalty saat final.

Sungguh menakjubkan mengingat sekolah kami yang tidak memiliki pagar, semua orang bisa berlalu lalang masuk sekolah kami, namun guru kami selalu berkata "pagar sekolah kita ada di hati".  Sebuah ucapan yang menurut kami, bukan sebuah halangan ditengah kekurangan.  Justru kekurangan harus kita tutupi dengan kelebihan

Leave a Reply